Less story cantik bohai – Namaku Narji. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini aku kuliah semester II jurusan TI. Sejak awal kuliah, aku tinggal dirumah kakak ku. “Kak Nabila” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut 5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.
Rumah yang kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Nabila. Tidak terlalu besar memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Nabila saat ini bekerja disalah satu KanCab bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali. Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan kecantikan alami yang dimilikinya. Dua bulan pertama aku tinggal dirumah kak Nabila, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Nabila saling menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Nabila.
Namun dari semua kekagumanku pada kak Nabila, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku tidak melihat kak Nabila memiliki hubungan spesial dengan laki-laki. Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan mapan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.
Hingga pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan, padahal biasanya kak Nabila asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya. Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok sesore ini kak Nabila sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku mencoba mengintip kak Nabila didalam kamar melalui lubang kunci. Agak kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang kecil aku masih dapat melihat kedalam.
Dadaku berdegup kencang, dan lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang kulihat. Kak Nabila menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana sehelaipun !!!
Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari. Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia menindih bantal guling. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Nabila masih menindih batal guling. Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.
Entah kenapa, rasa takut dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku meremasnya perlahan. Ahhh…
Ketika kembali aku mengintip ke dalam kamar, kulihat Kak Nabila mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal itu. Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Nabila didalam kamar. Nafasku memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Nabila yang semakin cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat kemudian tubuh kak Nabila nampak berguncang beberapa saat, jemari kak Nabila mencengkram seprai.
Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau. Bagaimanapun aku laki-laki normal.
Aku merasakan gelombang birahi menyala dan semakin menyala didalam tubuhku. Dan makin lama makin membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian. Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Nabila. Aku membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Nabila yang putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras. Aku membayangkan tubuh kak Nabila aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)…………….
Sejak kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Nabila mengalami perubahan. Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini melihat kak Nabila sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Nabila !)
Terkadang aku merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Nabila. Goblok ! mengapa baru sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Nabila sedemikian putih dan moligh. Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu. Ah lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah dilehernya.
“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak Nabila sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Nabila, lalu bergerak ke kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail seperti ini ?
“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih, selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak Nabila menatapku dengan pandangan aneh.
“Nanas ! itu kan selai kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Nabila bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.
“OK, tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip menyaksikan pinggul kak Nabila yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak, betisnya sedemikian putih dan mulus…
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Nabila. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.
“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum. “Periksa semua kunci rumah ya Narji kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”. “Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.
Beberapa saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna silver itu berlalu meninggalkan pekarangan. Setelah memastikan kak Nabila pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan. Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini Camera kekamar kak Nabila, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.
Sebulan berlalu, otakku benar-benar telah rusak. Aku selalu menunggu saat-saat dimana kak Nabila bermasturbasi.
Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Nabila. Aman ! sejauh ini kak Nabila tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang mengamati.
Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Nabila melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan malam minggu. Kasihan kak Nabila. Ia mestinya memang sudah berumah tangga. Tapi biarlah, kak Nabila toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang dilakukannya.
Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati. Kalau kak Nabila melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh…..
Seringkali ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak Nabila ketika kak Nabila tengah menggeliat-geliat sendiri. Aku ingin membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?
Malam ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok gak ada tanda-tandanya. Kak Nabila masih asyik nongkrongi TV diruang tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.
“Mau kemana Narji ?”,
“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .
“Jangan dulu dikunci, temen kak Nabila ada yang mau kesini !”,
“Mau kesini ? siapa kak ?”,
“Santi…yang dulu itu lho !”,
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Niken ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.
Aku bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas, HP kak Nabila berdering. Kudengar kak Nabila berbicara, rupanya temennya si Niken brengsek itu udah mau datang. Huh !
Aku hampir aja ketiduran. Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam, ya ampun aku memang ketiduran. Cuci muka di wastafel, lalu aku ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild. Dan, asap memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk kekamarku. Sepi. Temennya kak Nabila udah pulang kali ?!. Kunyalakan TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak, Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!
Ya ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan. Apa yang akan dilakukan kak Nabila dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah, kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Nabila ternyata menyukai sesama jenis. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!
Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.
Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.
Tapi…., aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak Nabila dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan tersenyum. Tangan kiri kak Niken mengelus-elus pundak kak Nabila. Sementara kuperhatikan tangan kak Nabila nampaknya mengelus-elus pinggang kak Niken, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.
Perlahan kepala kak Niken mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan menelusuri punggung kak Nabila. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita. Untuk beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih !
Sesaat kak Niken nampak menelusuri leher kak Nabila dengan bibir dan lidahnya, aku mengusap leherku sendiri. Entah kenapa aku merasa merinding nikmat. Apalagi melihat ekpresi kak Nabila yang pasrah tengadah, sementara kak Niken dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga. Aku tak tahan melihat kak Nabila diperlakukan seperti itu. Setelah mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.
Situasi semakin seru, kak Nabila kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak Niken yang kini terlentang ditindih kak Nabila. Kepala kak Niken mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat dilehernya.
Kemudian kak Nabila berpindah menciumi dada kak Niken, sekarang baru nampak jelas wajah kak Niken. Ia ternyata cantik sekali, bahkan sedikit lebih cantik dari kak Nabila. Ah aku terangsang. Tonjolan dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.
Kak Nabila benar-benar beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Niken. Wajah kak Niken mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Nabila mengemut putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap kepala kak Nabila. Bergantian kak Nabila mengerjai kedua payudara kak Niken. Kak Niken menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Nabila menyelinap ke dalam selimut. Tiba-tiba kepala Kak Nabila muncul lagi dari balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan sesuatu, karena kulihat kak Niken tersenyum, lalu sebuah kecupan mendarat dikening Kak Nabila. Sesaat kemudian kak Nabila menghilang lagi ke dalam selimut.
Kak Niken tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak Nabila, tapi menurut perkiraanku kepala kak Nabila tepat diantara selangkangan kak Niken. Entah apa yang tengah dilakukannya. Namun yang terlihat, kak Niken mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas kepala kak Nabila. Kepala kak Niken bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama. Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan, lalu kulemparkan kain sarungku. Kontolku mengeras, menuntut diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !
Tiba-tiba aku lihat kak Niken mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya menjepit kepala kak Nabila. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam. Matanya terpejam. Kemudian kak Nabila muncul dari balik selimut, ia nampak mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Niken tersingkap karenanya. Kak Niken kemudian meraih kedua bahu kak Nabila, mendaratkan kecupan dikening, pipi kanan dan kiri kak Nabila, lalu merangkul kak Nabila ke dalam pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan.
Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri. Dan, kemudian mereka nampak berbincang lagi, lalu kak Nabila membaringkan badanya. Terlentang. Kak Niken menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Kak Nabila kelihatan protes, tapi protes kak Nabila dibalas dengan lumatan bibir kak Niken. Tubuh kak Niken menindih tubuh kak Nabila. Aku melihat, dengan mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. Saling menyentuh.
Kak Niken kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri. Kak Nabila nampak pasrah diperlakukan seperti itu. Kak Niken nampak lebih terampil dari kak Nabila, hampir setiap inci tubuh kak Nabila dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini ia menelusuri pangkal paha kak Nabila dari arah perut dan terus bergerak ke awah. Kak Nabila hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala kak Nabila yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Niken menahanya, akhirnya kak Nabila menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.
Kak Niken kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Nabila. Tangan kanan kak Nabila mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat. Tubuh kak Niken kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha kak Nabila. Kak Niken menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul kak Nabila, sehingga tubuh bagian bawah kak Nabila makin terangkat. Kepala kak Nabila terjepit persis diantara selangkangan kak Nabila. Sebelah tangannya meremas-remas payudara kak Nabila. Aku lihat tubuh kak Nabila mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Nabila menggelinjang, nafasku semakin memburu.
Tubuhku kini mendekap dan mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek ujungnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Nabila dan kak Niken.
“Kak Nabila… kak Niken……, ini Narji… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.
Semakin lama kak Nabila kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Niken. Semakin lama gerakan kak Nabila semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam. Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan ! Brengsekkkkkk !!! Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual sex. Aku merintih dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Nabila dan kak Niken pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan…….

